Menanam Sendiri Jeruk Purut di Rumah

Menanam jeruk purut bisa di dalam pot berukuran besar juga bisa menanamnya langsung di tanah halaman depan atau belakang rumah. 

Menanam Jeruk Purut di Pot

Untuk membudidayakan tanaman Jeruk Purut di dalam pot, yang pertama harus dilakukan menyiapkan beberapa alat dan bahan yaitu berupa pot yang berukuran besar, tanah, pupuk kompos, pupuk kandang, pasir dan air.

Gunakan media tanam berupa tanah yang gembur dan agak berpasir serta mengandung cukup air, atau dengan mencampurkan tanah, pasir, dan pupuk kompos menggunakan perbandingan 2:2:1.

Pada awal penanaman, pot diletakkan di tempat yang mendapatkan sinar matahari cukup dan lakukan penyiraman secara teratur agar media tanam tidak menjadi gersang. Kemudian gunakan pupuk kandang dua minggu sekali.

  • Masukkan bibit ke dalam pot dan disesuaikan pada media tanam
  • Atur posisi letak bibit jeruk purut tepat di tengah pot dan tegak
  • Tambahkan media tanam hingga penuh serta padatkan di sekitar pangkal bibit tanaman, agar tanaman tegak berdiri
  • Siram hingga cukup basah
  • Karantina bibit di tempat yang terbuka dan teduh selama 20 hari
  • Lakukan penyiraman secara rutin, biasanya pada minggu ke 3 tanaman sudah tumbuh subur
  • Selanjutnya letakkan bibit pada area yang terkena cahaya matahari

Pemeliharaan tanaman jeruk purut dilakukan secara intensif, meliputi pemupukan secara berkala dengan pupuk organik, penyiraman 2 kali sehari, penyuburan kembali pada tanah, penimbunan batang dengan tanah agar menghasilkan akar yang baru, dengan tujuan mempercepat pertumbuhan pada tanaman jeruk purut

Menanam Jeruk Purut di lahan

Jeruk purut  membutuhkan iklim tropis yang hangat dan beriklim sedang. Mereka lebih memilih musim panas yang panas dan musim dingin yang ringan dan kering. Tanam dimulai pada musim gugur dan bisa meluas selama beberapa bulan selama musim dingin, buah segar segar terpanjang jika tertinggal di pohon. Pohon dewasa mencapai ketinggian 3-4 m, tepat untuk semak spesimen, pohon atau lindung nilai. Tanaman muda dapat berhasil ditanam dalam wadah selama bertahun-tahun.

Seperti semua jeruk, jeruk purut membutuhkan tanah yang dalam, bebas mengeringkan, dan dikomposkan dengan baik. Sinar matahari sepanjang tahun.

Siapkan lubang tanam yang digunakan untuk memudahkan pemindahan bibit ke area tanam. Sebaiknya lubang tanam sudah dibuat 2 minggu sebelum penanaman dilakukan. Hal ini dilakukan agar lubang dapat diberikan pupuk dasar terlebih dahulu. Untuk jenis pupuk dasar sendiri, anda bisa menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk dasar.

Pemindahan bibit ke area tanam dapat dilakukan setelah bibit sudah tumbuh besar. Namun ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum pemindahan dilakukan :

  • Jika bibit memiliki banyak daun dan cabang, memotong beberapa dahan dan daun agar nantinya sinar matahari dapat menyinari bibit secara maksimal.
  • Jika bibit sudah berakar lebat, lakukan pengaturan akar agar mudah pada saat pemindahan. Jangan sampai ada akar yang terlipat atau menggulung karena itu dapat dipastikan akan menghambat pertumbuhan akan selanjutnya.
  • Bibit tanaman bisa dilakukan baik pada musim kemarau ataupun musim hujan. Hal ini menyangkut masalah ketersediaan air. Karena seperti kita tahu, pada saat musim kemarau, cuaca pada saat itu sangat panas dan keadaan tanahpun menjadi sangat kering.
  • Jika kita menanam pada masa ini, sudah dipastikan kita akan mengeluarkan banyak air untuk bibit agar kebutuhan air bibit dapat terpenuhi. Berbeda ketika musim hujan datang, kebutuhan akan air bibit dapat terjaga dengan baik walaupun gulma akan tumbuh lebih cepat.

Setelah masa tanam sudah lewat, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah perawatan agar bibit yang sudah anda tanam dapat tumbuh sesuai harapan dan berbuah lebat.

Penyiraman pohon dapat dilakukan dua kali dalam satu hari. Namun jika saat itu musim hujan, penyiraman dapat dikurangi jumlahnya karena terbantu dari air hujan yang turun. Hal lain yang perlu diperhatikan pada saat menyiram adalah jangan sampai terjadi genangan air didekat tanaman karena dikhawatirkan akan terserap tanah dan menjadikan tanah basah lalu membusukkan akar.

Pada saat awal penanaman, anda bisa menggunakan pupuk organik seperti pupuk kandang sebagai pupuk dasar.

Ketika pohon sudah besar, pemupukan kedua bisa dilakukan. Biasanya pupuk yang digunakan pada saat pemupukan kedua ini adalah TSP, Urea, Pupuk Kandang, dolomit, dan juga ZA.

Selain memberi makan dan menyiram, sirkulasi udara yang baik dengan tapak dan pemangkasan yang tepat merupakan tindakan pencegahan yang penting. Membersihkan puing-puing di sekitar tanaman, seperti daun dan buah yang gugur, mengurangi persembunyian dan tempat berkembang biak untuk hama dan mengurangi kemungkinan spora jamur yang tumbuh pada materi yang membusuk.

Berikut ini jenis-jenis hama dan penyakit tanaman jeruk, serta penyebab, gejala serangan dan upaya pengendaliannya :

Hama…

1. Kutu loncat (Diaphorina citri.)

a). Bagian yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
b). Gejala serangan: tunas keriting, tanaman mati.
c). Cara engendalian : dengan penyemprotan menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, selain itu buang bagian tanaman yang terserang.

2. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)

a). Bagian yang diserang adalah tunas muda dan bunga.
b). Gejala serangan : daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
c). Cara pengendalian : menggunakan insektisida dgn bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).

3. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)

a). Bagian yang diserang adalah daun muda.
b). Gejala serangan : alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung,rontok.
c). Cara pengendalian: semprotkan insektisida dgn bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP), Diazinon (Basazinon 45/30 EC). Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah atau dibakar.

4.Tungau (Tenuipalsus sp., Eriophyes sheldoni Tetranychus sp.)

a). Bagian yang diserang adalah tangkai, daun dan buah.
b). Gejala serangan : bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
c). Cara pengendalian: semprotkan insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol (Kelthane), Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).

5. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)

a). Bagian yang diserang adalah buah.
b). Gejala serangan : lubang yang mengeluarkan getah.
c). Cara pengendalian: memetik buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida Methomyl (Lannate 25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC) yang disemprotkan pada buah berumur 2-5 minggu.

6. Kutu penghisap  (Helopeltis antonii.)

a). Bagian yang diserang Helopeltis antonii.
b). Gejala serangan : bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
c). Cara pengendalian: semprotkan insektisida Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion (Lebaycid), Metamidofos (Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).

7. Ulat penggerek bunga dan puru buah (Prays sp.)

a). Bagian yang diserang adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.
b). Gejala serangan : bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur sebelum tua.
c). Cara pengendalian: gunakan insektisida dengan bahan aktif Methomyl (Lannate 25 WP) dan Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian buang bagian yang diserang.

8. Thrips (Scirtotfrips citri.)

a). Bagian yang diserang adalah tangkai dan daun muda.
b). Gejala serangan : helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai nekrotis.
c). Cara pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari measuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida berbahan aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.

9. Kutu dompolon (Planococcus citri.)

a). Bagian yang diserang adalah tangkai buah.
b). Gejala serangan : berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur.
c). Pengendalian: gunakan insektisda Methomyl (Lannate 25 WP), Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl (Sevin 85 S), Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian cegah datangnya semut yang dapat memindahkan kutu.

10. Lalat buah (Dacus sp.)

a). Bagian yang diserang adalah buah muda hingga buah yang hampir masak.
b). Gejala serangan : lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
c). Cara pengendalian : gunakan insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Prrofenofos dicampur Metomil dan menggunakan perangkap Feromon Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate.

11. Kutu sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis citri.)

a). Bagian yang diserang daun, buah dan tangkai.
b). Gejala serangan : daun berwarna kuning, bercak khlorotis dan gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang kering dan kulit retak buah gugur.
c). Cara pengendalian : gunakan pestisida Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).

Secara Alami dan Kimiawi

12. Kumbang belalai (Maeuterpes dentipes.)

a). Bagian yang diserang adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah.
b). Gejala serangan : daun gugur, ranting muda kadang-kadang mati.
c). Cara pengendalian: perbaiki sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Penyemprotan menggunakan insektisida Carbaryl (Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).

Penyakit…

1. Penyakit CVPD

a). Penyebab : Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri.
b). Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.
c). Gejala serangan : daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
d). Cara pengendalian : gunakan tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan perhatikan sanitasi kebun yang baik.

2. Tristeza

a). Penyebab : virus Citrus tristeza dengen vektor Toxoptera.
b). Bagian yang diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.
c). Gejala serangan : lekuk batang , daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat.
d). Cara pengendalian : perhatikan sanitasi kebun, memusnahkan tanaman yang terserang, kemudian kendalikan vektor dengan insektisida Supracide atau Cascade.

3. Woody gall (Vein Enation)

a). Penyebab : virus Citrus Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii.
b). Bagian yang diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange.
c). Gejala serangan : Tonjolan tidak teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan daun.
d). Cara pengendalian : gunakan mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.

4. Penyakit Blendok

a). Penyebab : jamur Diplodia natalensis.
b). Bagian yang diserang adalah batang atau cabang.
c). Gejala serangan : kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
d). Cara pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.

5. Embun tepung

a). Penyebab: jamur Odidium tingitanium.
b). Bagian yang diserang adalah daun dan tangkai muda.
c). Gejala serangan : tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
d). Cara pengendalian : gunakan fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot 25 EC).

6. Penyakit Kudis

a). Penyebab : jamur Sphaceloma fawcetti.
b). Bagian yang diserang adalah daun, tangkai atau buah.
c). Gejala serangan : bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
d). Cara pengendalian : pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl (Benlate).

7. Busuk buah

a). Penyebab : Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae.
b). Bagian yang diserang adalah buah.
c). Gejala serangan : terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
d). Cara pengendalian : hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benomyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.

8. Busuk akar dan pangkal batang

a). Penyebab : jamur Phyrophthoranicotianae.
b). Bagian yang diserang adalah akar dan pangkal batang serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.
c). Gejala serangan : tunas tidak segar, tanaman kering.
d). Cara pengendalian : pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.

9. Buah gugur prematur

a). Penyebab : jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp.
b). Bagian yang diserang: buah dan bunga
c). Gejala serangan : dua – empat minggu sebelum panen buah gugur.
d). Cara pengendalian: Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.

10. Jamur upas

a). Penyebab : Upasia salmonicolor.
b). Bagian yang diserang adalah batang.
c). Gejala serangan : retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
d). Cara pengendalian : kulit yang terinfeksi dikelupas dan dioles fungisida carbolineum. Kemudian potong cabang yang terinfeksi.

11. Kanker

a). Penyebab : bakteri Xanthomonas campestris Cv. Citri.
b). Bagian yang diserang adalah daun, tangkai, buah.
c). Gejala serangan : bercak kecil berwarna hijau-gelap atau kuning di sepanjang tepi, luka membesar dan tampak seperti gabus pecah dengan diameter 3-5 mm.
d). Cara pengendalian : Fungisida Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper oxychlorida. Selain itu untuk mencegah serangan ulat peliang daun adalah dengan mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.

Perawatan yang lain bisa juga dilakukan dengan pemangkasan secara rutin, terutama jika ada ranting yang terkena hama atau penyakit. Setelah dipangkas atau dipotong, bekas pemotongan pada cabang ranting ditutup dengan cairan lilin agar mencegah masuknya penyakit.

Lakukan perawatan tersebut secara rutin jika menginginkan hasil panen jeruk purut yang berbuah lebat dan sehat.

%d blogger menyukai ini: